Senin, 13 April 2015

Kancil dan Harimau



Kancil dan Harimau

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati.
Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah.
Sikancil akhirnya tidak tahan lagi.
"Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah.
 "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok!

Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang
tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat siharimau kapok.

Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu
karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas
penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah,
bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di
ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih
rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut
aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti
malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi." Si kelincipun berjalan menemui harimau yang
sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah
mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku?
Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke
tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon
besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil
kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari
masuk dalam semak-semak. "Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi penasaran. "Aku
boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah
mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus
membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan
salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata sikancil. Setelah Kancil pergi, Harimau segera
memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi…. Ternyata bende itu adalah sarang
lebah! Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari
sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau.
"Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah
sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat
dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi
lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende
wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.
"Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."
Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan
memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda